Lebih lanjut, Murthalamuddin menjelaskan bahwa penyaluran bantuan hingga saat ini masih terkendala oleh akses darat yang terputus di banyak wilayah. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan disebabkan oleh keterlambatan petugas, melainkan akibat sulitnya akses di lapangan pascabencana.
“Bencana kali ini berbeda. Banyak jalan putus, jembatan rusak, dan longsor menutup akses. Ada pula ruas jalan yang tertimbun lumpur setinggi lebih dari satu meter, di atasnya terlihat keras, tapi bagian bawahnya masih lembek sehingga kendaraan mudah terjeblos,” ujarnya.
Akibat kondisi tersebut, pengiriman bantuan melalui jalur darat hanya bisa dilakukan dengan metode rantai manusia di sejumlah titik, sementara sebagian relawan harus berjalan kaki untuk mencapai desa-desa yang masih terisolasi.
Selain akses darat, kendala komunikasi juga menjadi tantangan. Meski Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Kemkomdigi RI) menargetkan pemulihan jaringan mencapai sekitar 70 persen dalam pekan ini, Murthalamuddin menyebut bahwa pemulihan tetap bergantung pada ketersediaan listrik.
“Starlink yang sudah dikirim juga tetap membutuhkan suplai daya. Jika baterainya habis dan tidak ada listrik, atau genset tersedia tetapi tanpa BBM, perangkat akan otomatis mati. Sejumlah BTS pun terendam banjir sehingga rusak. Inilah yang turut menyulitkan pemulihan komunikasi,” jelasnya.









