Mualem menyebutkan beberapa wilayah yang mengalami dampak cukup parah, seperti Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Kota Langsa, serta wilayah tengah Aceh. Ia menilai, proses pemulihan di daerah-daerah tersebut membutuhkan kerja keras, kolaborasi lintas sektor, dan waktu yang tidak singkat.
“Berbeda dengan tsunami yang airnya cepat surut, banjir kali ini bertahan berhari-hari dan meninggalkan lumpur yang menimbun rumah, permukiman, serta lahan pertanian. Ini menjadi tantangan besar bagi kita semua,” ungkapnya.
Gubernur Aceh juga menyampaikan harapan agar dukungan dan bantuan kemanusiaan dapat tersalurkan dengan cepat dan tepat sasaran, sehingga masyarakat dapat segera bangkit dan menjalani kehidupan normal kembali.
Sementara itu, Ketua PMI Pusat M. Jusuf Kalla menyampaikan bahwa PMI akan terus bersinergi dengan Pemerintah Aceh dalam penanganan bencana. Ia mengapresiasi kepemimpinan Gubernur Aceh yang dinilainya selalu mengutamakan kepentingan rakyat.
Pelantikan pengurus PMI Aceh masa bakti 2025–2030 ini diharapkan menjadi momentum penguatan kolaborasi antara Pemerintah Aceh dan PMI dalam meningkatkan kesiapsiagaan, respons bencana, serta pelayanan kemanusiaan yang berkelanjutan bagi masyarakat Aceh. []









